Minggu, 17 November 2019

Kisah Gonta-ganti Direktur Utama Garuda Indonesia

Pertamina Terlepas Patra Jasa

TEMPO Interaktif, Jakarta -Perusahaan minyak serta gas bumi PT Pertamina (Persero) akan melepas pemilikan saham mayoritasnya di anak usaha PT Patra Layanan akhir bulan ini. Direktur PT Perusahaan Pengelola Asset Andi Saddawero mengatakan ini sisi dari usaha perusahaan melepas usaha non-inti. Andi mengatakan sekitar 66,7 % saham Pertamina dari keseluruhan pemilikan 99,98 % di Patra Layanan akan dilego. Berapakah persisnya harga saham yang akan ditawarkan perusahaan pelat merah itu, Andi malas memberi komentar. Dia cuma memprediksi angkanya dapat sampai triliunan rupiah sebab property Patra Layanan umumnya berada di ruang strategis. Sudah diketahui, Patra Layanan salah satu anak usaha Pertamina yang beroperasi di sektor pariwisata serta property. Beberapa property yang dipunyai Patra Layanan salah satunya tujuh hotel, Gedung Patra Layanan Kuningan, serta satu residensial elegan di Patra Kuningan. Pada 21 April lalu, Pertamina minta PPA mengurus aset-aset non-inti perusahaan. Tidak hanya menolong divestasi Patra Layanan, PPA mengurus asset yang lain, seperti Lapangan Terbang Pondok Cabe, PT Pelita Air Service, PT Patra Dok Dumai, PT Usayana, serta PT Seamles Pipe Indonesia. Awalnya PPA sudah melego asset property Pertamina di Kemang. Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muchammad Harun pastikan pelepasan pemilikan saham di Patra Layanan jadi usaha perusahaan untuk lebih mengutamakan perhatian ke usaha penting di bagian daya. Harun belum ingin menjelaskan harga saham Patra Layanan yang akan dilepaskan Pertamina sebab harus lihat keadaan pasar. Yang tentu, Dengan masih kinclongnya usaha property serta perhotelan sekarang, Patra Layanan dapat lebih gesit serta berkembang lebih baik, tuturnya saat dihubungi tempo hari. Dia memandang dilepasnya Patra Layanan tidak berefek relevan pada Pertamina. Masalahnya Patra Layanan semenjak awal dibuat serta ditingkatkan cuma untuk mendukung pekerjaan usaha pokok Pertamina. Tidak hanya mengurus penjualan Patra Layanan, PPA tengah mengusahakan restrukturisasi utang PT Tuban Petrochemical, induk usaha PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI), sejumlah Rp 3,2 triliun. Mengenai TPPI berutang pada Pertamina sebesar US$ 300,7 juta. Akhir tahun kemarin Pertamina berkemauan menyeret Trans-Pacific ke arbitrase sebab tidak berhasil bayar berkali-kali. Dari beberapa pilihan, kata Andi, PPA menyarankan pemercepatan pembayaran tersisa utang Tuban Petrochemical, yang jatuh temponya pada 2014. Sampai akhir bulan kemarin, baru Rp 66,6 miliar utang berjalan Tuban Petrochemical itu terbayar. Ikut campurnya PPA dalam penyelesaian utang Pertamina dengan Trans-Pacific sebab pemerintah tidak ingin pembayaran utang Tuban Petrochemical memiliki masalah. Dari tiga anak usaha Tuban Petrochemical, Trans-Pacific Petrochemical Indotama adalah mesin penting pengembalian utang.

RIEKA RAHADIANA | GUSTIDHA BUDIARTIE

"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar